Mengenal Bapak Sad Boy Dari Surakarta

By | June 12, 2019

Bapak “Sad Boy” dari Surakarta


Sapikotak.id – Didi Prasetyo atau yang lebih dikenal Didi Kempot (lahir di Surakarta, 31 Desember 1966; umur 52 tahun) adalah seorang penyanyi campursari dari Jawa Tengah. Didi Kempot merupakan putra dari pelawak terkenal dari kota Solo, Ranto Edi Gudel (Almarhum) yang lebih dikenal dengan nama mbah Ranto. Didi Kempot merupakan adik kandung dari Mamiek Podang, pelawak senior Srimulat.

Didi Kempot – God Father of broken heart

Didi Kempot aktif semenjak 1989 di dunia campursari, Didi Kempot berhasil membuat banyak lagu yang masuk ke dalam hati para masyarakat jawa hampir setiap kalangan, hingga saat ini. Mulai dari Stasiun Balapan hingga ke Banyu Langit berhasil memikat hati para masyarakat di semua kalangan.

Akhir-akhir ini banyak puja pujian Didi Kempot sebagai “God Father of broken heart”, di sebabkan lagu-lagu dari didikempot yang selalu menyentuh hati para pendengarnya. Lantunan lirik yang sangat mengena di campur paduan keroncong yang mengiringi membuat sebuah komposisi kesedihan yang sangat mendalam.

Lagu-lagunya berhasil membuat para pendengarnya menangis tanpa meneteskan airmata, kesedihan yang di rasakan mengalir deras dalam hati, namun tidak menjadi airmata, justru menjadi sebuah senyuman, karena apa yang ada di dalam lirik Didi Kempot benar-benar persis seperti apa yang para masyarakat rasakan. Semua terasa “KLOP” hingga saat kita mendengarkan sambil bernyanyi, justru hanya akan cengar-cengir. Namun di hati yang terdalam airmata kesedihan mengalir sangat derassss bagaikan sebuah air terjun yang terus mengalir.

Di saat kita merasakan kepedihan akibat patah hati, Didi Kempot selalu hadir untuk membuat kita melepaskan tangisan tanpa meneteskan airmata.

Didi Kempot telah merasakan sakit hati lebih banyak daripada yang pernah kita rasakan, ia pernah di tinggal di  “Setasiun Balapan” sehingga berpisah dengan sang kasih, membuat hal itu menjadi musibah patah hati yang sangat dalam.

Bahkan ia pernah merasakan “Pengen turu angel merem” dalam lagu Layang Kangen, saat ia berada dalam hubungan jarak jauh (LDR), rasa kangen yang sangat dalam membuat dirinya kembali galau tak karuan hingga ia berhayal “upomo tangan ku dadi sewiwi” dia akan berangkat di hari itu juga untuk menemui sang kasih.

Ia bahkan membuat sebuah lagu jatuh cinta namum patah hati, yaitu lagu Karindangan (Prawan Kalimantan), dalam lagu tersebut muncul kata-kata “Jane tresno ra wani nembung” membuat ia gagal menjalani hubungan dengan sang wanita pujaan, padahal sang wanita tersebut juga merasakan hal yang sama, namun nasi sudah menjadi bubur, Didi sudah “kembali ke tanah sebrang”.

Memang tidak ada konfirmasi yang jelas mengatakan apakah semua yang dinyanyikan itu merupakan pengalaman pribadi atau hanya sebuah karangan. Yang terpenting adalah Didi Kempot memang menjadi guru besar dalam perjalanan cinta masyarakat yang mengenalnya.

Lirik dari setiap lagunya benar-benar mengena dan memang dialah “God Father of broken heart”, kepada dialah para kaum sad boy patah hati bersandar dan berlabuh untuk belajar kembali mengenai kehidupan dan cinta.

Berikut salah satu cuwitan sebuah akun twitter saat berada di konser sang legenda :


Artikel ini terinspirasi dari salah satu post mojok.co [PUJA-PUJI UNTUK LORD DIDI KEMPOT, BAPAK PATAH HATI NASIONAL]

Leave a Reply

Your email address will not be published.